Jika Kau memandang seseorang dengan pandangan mata syariat, maka akan kau temui banyak sekali rasa marahnya. Tapi jika kau memandang seseorang dengan pandangan mata hakikat, maka akan kau temui begitu banyak sekali rasa maklumnya....
Selasa, 19 Agustus 2025
Sabtu, 04 Mei 2024
ALANGKAH INDAHNYA JIKA CINTA KITA KEPADA ALLAH DAN ROSUL-NYA SEPERTI CINTANYA LAILA DAN MAJNUN
Sebuah Cerita kisah cinta dua sejoli yang sedang dimabuk asmara, Membangkitkan semangat luar biasa untuk mempertahankan cintanya. Mereka rela melakukan apapun demi yang dicintainya. Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah cinta mereka adalah. Betapa cinta mempunyai kekuatan yang luar biasa. Maka seandainya cinta itu kita salurkan pada cinta yang hakiki dan pada cinta yang abadi alangkah indahnya hidup ini dunia akhirat. Apabila cinta kepada Allah dan Rosulnya seperti cinta majnun pada laila, yang selalu menyebut namanya, selalu melakukan apapun demi yang dicintainya.... Pastilah ibadah akan menjadi menyenangkan dan rindu kepada Allah dan Rosulnya akan membangkitkan giat ibadah tanpa pamrih.. Berikut ini kisah cinta Layla dan Majnun.
Kisah ini ditulis oleh Nizami Ganjavi (nama pena) karena berasal dari daerah Gans, Azerbaijan, nama aslinya adalah Jamaluddin Ilyas bin Yusuf bin Zakky. Ia merupakan ahli hikmah (Hakim Nizami), sejak kecil yatim dan dibesarkan pamannya dan disekolahkan, sangat pintar, menguasai banyak ilmu agama.
Hal yang menarik dari hidupnya, Nizami yaitu merupakan seorang sastrawan dan banyak menulis kisah cinta, salah satunya Laila & Majnun. Dalam kesempatan kali ini merupakan cerita rakyat/lisan, orang Arab sebelumnya sudah masyhur mengenal kisah Laila & Majnun. Namun ada beberapa yang kontroversial, bahwa ada yang menganggap cerita ini ini nyata apa cuma rekaan.
Dalam riwayat, Majnun bernama asli Qais begitu dikenal begitu tampan, pintar, dan terpandang di sukunya, sedangkan Laila bernama asli Ibnu ‘Aamir yang begitu cantik berasal dari suku sebelah. Dalam kisahnya karena dalam lingkup satu sekolah yang sama, ketika Majnun pertama kali melihat paras Laila yang cantik rupawan, seketika ia jatuh cinta. Pemuda-pemudi nusantara kerap menyebutnya “Jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Seketika Majnun kehilangan kesadaran karena tumbuh benih-benih cinta yang tak ia sangka. Begitu pun Layla ketika untuk pertama kalinya menatap wajah Qays, langsung terpikat. Dua orang anak muda itu sama-sama jatuh cinta. Bahkan keduanya digambarkan sedang “Mabuk” (Cinta).
…….., “Wahai Laila, Cinta telah membuatku lemah tak berdaya // Seperti anak hilang, jauh dari keluarga dan tidak memiliki apa-apa //
Mereka mengatakan aku telah tersesat // Wahai, mana mungkin cinta menyesatkan // Jiwa mereka sebenarnya kering, laksana dedaunan // Diterpa panas mentari siang //
Bagiku cinta adalah keindahan // yang membuat mata tak bisa terpejam // Pemuda mana yang bisa selamat dari api cinta? //”
Majnun ketika gila sering dikerumuni orang karena ia kerap kali menggubah syair, begitu ditunggu-tunggu karena keindahannya. Setelah beberapa lama, ia seperti orang tidak terawat tidak pakai baju dan rambutnya gondrong. Begitu pun Laila yang dalam beberapa bagian ceritanya, kerap kali mengeluarkan puisi. Dan pada akhirnya puisi-puisi Laila dikirim melalui surat untuk Majnun.
Majnun berusaha dengan berbagai cara untuk bertemu Laila, akan tetapi tidak bisa. Lalu mulailah muncul syair-syair, tangisan-tangisan rindu Majnun. Kemana-mana hanya menyebut nama Laila…Laila…Laila..dan Laila. Bahkan ia rela menyamar sebagai kambing, dan berjalan diantara kambing-kambing tersebut ketika melintasi kediaman Laila. Dalam riwayat lain, Majnun rela menyamar sebagai pengemis yang hina ke desa Laila dan menyamar sebagai pembantu perempuan, yang tak lain supaya kembali bisa menatap kekasihnya.
Singkat cerita, karena Laila juga sangat merindukan Majnun, ia pun kerap kali merenung dan mengharap kembali kedatangan Majnun. Ia kerap setiap saat menyeru nama Majnun di penjara kamarnya, begitupun di taman kediamannya. Hanya Majnun yang tertulis dalam lubuk hatinya, hanya Allah dan Laila yang tahu betapa cintanya ia terhadap Majnun.
Namun, apalah daya sang ayah tidak tega melihatnya dan ia pun dinikahkan dengan Ibn Salam, yang merupakan seorang bangsawan. Lantas Laila pun menolaknya, akan tetapi ponolakannya tidak digubris oleh pihak keluarganya, dan pernikahanpun berlangsung.
Sejak pernikahannya dengan Ibn Salam, Laila sama sekali belum pernah berhubungan suami istri dengannya, ia masih tetap mengharap kehadiran Majnun di sisinya. Selang beberapa lama, Ibn Salam pun dikabarkan meninggal di waktu musim panas. Laila pun terisak tangi tersedu-sedu, bukan karena menangisi kepergian Ibn Salam, akan tetapi ia menangis kerinduan akan bertemu Majnun dan sangat mencintainya.
Tak lama kemudian ketika Laila kembali ke rumah ayahnya, Ia dikabarkan jatuh sakit batuk parah dan tidak memikirkan kesehatannya. Ia hanya memikirkan Majnun setiap saat, bahkan ketika maut menjemput pun ia tetap memikirkan Majnun. Pada akhirnya, ketika gelapnya malam, Laila seperti biasa menatap pinti dan ia pun menghembuskan nafas terakhirnya dan bergumam “Majnun….Majnun….Majnun….Majnun.”
Kematian gadis si cantik jelita tersebut tersebar ke seluruh penjuru negeri, dan sampai pula kepada Majnun. Ia pun seketika pingsan di tengah padang gurun. Ketika kembali sadar, ia pun langsung bergegas menuju desa Laila dan berkunjung ke makam Laila. Ketika tidak sanggup jalan, ia pun menyeret tubuhnya untuk sampai ke makam Laila. Ia pun meletakkan tubuhnya di atas makam Laila dan diriwayatkan setelah beberapa hari Majnun pun turut meninggal. Jasad Majnun pun baru ditemukan satu tahun setelahnya.
Tak begitu lama sang sufi pun terbangun dan berangan-angan: “Jikalau Majnun begitu diperlakukan demikian (penuh kasih sayang) oleh Allah SWT, lantas bagaimana dengan Laila?”. Seketika Allah memberikan ilham kepadanya bahwa kedudukan Laila jauh lebih agung dan tinggi daripada Majnun, karena ia menyembunyikan segala rahasia cintanya dalam diri dan hidupnya sendiri.
Pelajaran yang dapat kita petik yaitu, jika seseorang sudah jatuh/dimabuk cinta kepada Allah, maka akan keluar secara otomatis dari mulutnya nama Allah Allah Allah, baik sengaja atau tidak pasti itu akan keluar dan tidak aka nada bosannya. “Cinta adalah pondasi dalam beribadah”. Bahkan para wali Allah lupa terhadap dirinya dan rela melakukan apa saja untuk beribadah kepada Allah. Seperti kisah di atas, begitu ketika cinta kepada Allah SWT, maka dunia dan segala isinya tidak berarti.
Dalam konteks hablun min Allah dan hablun min An-Naas, orang yang menyembunyikan amal perbuatannya dari orang lain maka akan mendapat sisi yang tinggi dihadapan-Nya. Karena hanya ia dan Tuhannya yang tahu.
Kamis, 25 April 2024
MISTERI BILANGAN DALAM AL QURAN
Misteri bilangan dalam Al Quran
Jumlah surat dalam Al Quran ada 114 ayat. Yaitu :
1. Al-Fatihah (Pembuka): 7 Ayat
2. Al-Baqarah (Sapi Betina): 286 Ayat
3. Ali Imran (Keluarga Imran): 200 Ayat
4. An-Nisa (Wanita): 176 Ayat
5. Al-Ma'idah (Hidangan): 120 Ayat
6. Al-An'am (Binatang Ternak): 165 Ayat
7. Al-A'raf (Tempat Tertinggi): 206 Ayat
8. Al-Anfal (Rampasan Perang): 75 Ayat
9. At-Taubah (Pengampunan): 129 Ayat
10. Yunus (Nabi Yunus): 109 Ayat
11. Hud (Nabi Hud): 123 Ayat
12. Yusuf (Nabi Yusuf): 111 Ayat
13. Ar-Ra'd (Guruh): 43 Ayat
14. Ibrahim (Nabi Ibrahim): 52 Ayat
15. Al-Hijr (Gunung Al=Hijr): 99 Ayat
16. An-Nahl (Lebah): 128 Ayat
17. Al-Isra' (Memperjalankan Malam Hari): 111 Ayat
18. Al-Kahf (Gua): 110 Ayat
19. Maryam (Maryam): 98 Ayat
20. Ta Ha (Ta Ha): 135 Ayat
21. Al-Anbiya (Para Nabi): 112 Ayat
22. Al-Hajj (Haji): 78 Ayat
23. Al-Mu'minun (Orang-orang Mukmin): 118 Ayat
24. An-Nur (Cahaya): 64 Ayat
25. Al-Furqan (Pembeda): 77 Ayat
26. Asy-Syu'ara' (Para Penyair): 227 Ayat
27. An-Naml (Semut): 93 Ayat
28. Al-Qasas (Kisah): 88 Ayat
29. Al-'Ankabut (Laba-laba): 69 Ayat
30. Ar-Rum (Bangsa Romawi): 60 Ayat
31. Luqman (Keluarga Luqman): 34 Ayat
32. As-Sajdah (Sajdah): 30 Ayat
33. Al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu): 73 Ayat
34. Saba' (Kaum Saba'): 54 Ayat
35. Fatir (Maha Pencipta): 45 Ayat
36. Ya Sin (Yasin): 83 Ayat
37. As-Saffat (Yang Berbaris-baris): 182 Ayat
38. Sad (Sad): 88 Ayat
39. Az-Zumar (Rombongan): 75 Ayat
40. Ghafir (Yang Mengampuni): 85 Ayat
41. Fussilat (Yang Dijelaskan): 54 Ayat
42. Asy-Syura (Musyawarah): 53 Ayat
43. Az-Zukhruf (Perhiasan): 89 Ayat
44. Ad-Dukhan (Kabut): 59 Ayat
45. Al-Jasiyah (Berlutut): 37 Ayat
46. Al-Ahqaf (Bukit Pasir): 45 Ayat
47. Muhammad (Nabi Muhammad): 38 Ayat
48. Al-Fath (Kemenangan): 29 Ayat
49. Al-Hujurat (Kamar-kamar): 18 Ayat
50. Qaf (Qaf): 45 Ayat
51. Az-Zariyat (Angin yang Menerbangkan): 60 Ayat
52. At-Tur (Bukit Tursina): 49 Ayat
53. An-Najm (Bintang): 62 Ayat
54. Al-Qamar (Bulan): 55 Ayat
55. Ar-Rahman (Maha Pengasih): 78 Ayat
56. Al-Waqi'ah (Hari Kiamat yang Pasti Terjadi):
96 Ayat
57. Al-Hadid (Besi): 29 Ayat
58. Al-Mujadilah (Gugatan): 22 Ayat
59. Al-Hasyr (Pengusiran): 24 Ayat
60. Al-Mumtahanah (Wanita yang Diuji): 13 Ayat
61. As-Saff (Barisan): 14 Ayat
62. Al-Jumu'ah (Hari Jumat): 11 Ayat
63. Al-Munafiqun (Orang-orang Munafik): 11 Ayat
64. At-Tagabun (Pengungkapan Kesalahan): 18 Ayat
65. At-Talaq (Talak): 12 Ayat
66. At Tahrim (Pengharaman): 12 Ayat
67. Al-Mulk (Kerajaan): 30 Ayat
68. Al-Qalam (Pena): 52 Ayat
69. Al-Haqqah (Hari Kiamat): 52 Ayat
70. Al-Ma'arij (Tempat-tempat Naik): 44 Ayat
71. Nuh (Nabi Nuh): 28 Ayat
72. Al-Jinn (Jin): 28 Ayat
73. Al-Muzzammil (Orang Berkelumun): 20 Ayat
74. Al-Muddassir (Orang Berselimut): 56 Ayat
75. Al-Qiyamah (Hari Kiamat): 40 Ayat
76. Al-Insan (Manusia): 31 Ayat
77. Al-Mursalat (Malaikat yang Diutus): 50 Ayat
78. An-Naba' (Berita): 40 Ayat
79. An-Nazi'at (Yang Mencabut dengan Keras): 46
Ayat
80. 'Abasa (Bermuka Masam): 42 Ayat
81. At-Takwir (Penggulungan): 29 Ayat
82. Al-Infitar (Terbelah): 19 Ayat
83. Al-Mutaffifin (Orang-orang yang Curang): 36
Ayat
84. Al-Insyiqaq (Terbelah): 25 Ayat
85. Al-Buruj (Gugusan Bintang): 22 Ayat
86. At-Tariq (Yang Datang pada Malam Hari): 17 Ayat
87. Al-A'la (Maha Tinggi): 19 Ayat
88. Al-Gasyiyah (Hari Kiamat yang Menghilangkan
Kesadaran): 26 Ayat
89. Al-Fajr (Fajar): 30 Ayat
90. Al-Balad (Negeri): 20 Ayat
91. Asy-Syams (Matahari): 15 Ayat
92. Al-Lail (Malam): 21 Ayat
93. Ad-Duha (Duha): 11 Ayat
94. Al-Insyirah (Pelapangan): 8 Ayat
95. At-Tin (Buah Tin): 8 Ayat
96. Al-'Alaq (Segumpal Darah): 19 Ayat
97. Al-Qadr (Kemuliaan): 5 Ayat
98. Al-Bayyinah (Bukti Nyata): 8 Ayat
99. Az-Zalzalah (Guncangan): 8 Ayat
100. Al-'Adiyat (Kuda Perang yang Berlari
Kencang): 11 Ayat
101. Al-Qari'ah (Hari Kiamat yang Menggetarkan):
11 Ayat
102. At-Takasur (Bermegah-megahan): 8 Ayat
103. Al-'Asr (Masa): 3 Ayat
104. Al-Humazah (Pengumpat): 9 Ayat
105. Al-Fil (Gajah): 5 Ayat
106. Quraisy (Suku Quraisy): 4 Ayat
107. Al-Ma'un (Bantuan): 7 Ayat
108. Al-Kautsar (Nikmat yang Banyak): 3 Ayat
109. Al-Kafirun (Orang-orang Kafir): 6 Ayat
110. An-Nasr (Pertolongan): 3 Ayat
111. Al-Lahab (Gejolak Api): 5 Ayat
112. Al-Ikhlas (Ikhlas): 4 Ayat
113. Al-Falaq (Waktu Fajar): 5 Ayat
114. An-Nas (Manusia): 6 Ayat
Ada sepuluh surat yang menyebutkan bilangan 10
10 Surat dalam Al Quran yang menyebutkan bilangan sepuluh yaitu
:
1.
(QS.89 ayat 2)
2.
(Al-Baqarah ayat 196)
3.
Al-Baqarah ayat 234
4.
Al-Maaidah ayat 89
5.
Al-An`aam ayat 160)
6.
(Al-A`raaf ayat 142)
7.
(Hud ayat 13)
8.
(Thaahaa ayat 103)
9.
(Al-Qashash ayat 27)
10.
(Saba` ayat 45)
Sekarang coba : 114 dikurangi dengan umurmu! Missal :
Jikan umur kamu 60 tahun
maka 114-60 = 54 kemudian tambahkan dengan angka 10. 54 + 10 = 64 berarti tahun
kelahiranya adalah 1964
Jika umur kamu dibawah 25 tahun hasilnya angka satu tidak
dibaca. Contoh :
Jika umurmu 15 tahun, maka 114-15 = 99 kemudian tambahkan dengan
angka 10. 99 + 10 = 109 berarti
tahun kelahiranya adalah 2009
-
[22.52, 28/1/2022] Mustolih Hakim 무스터리하낌: Ramai dibicarakan mengenai minum kopi yang bisa masuk surga bagi orang yang meminumnya selama di...
-
Foto : Acara Parasan mencukur rambut bayi dan memberi nama A. Ibadah Mahdhoh Ibadah mahdhah merupakan bentuk ibadah yang merupakan wujud p...
-
Sahabat Abdullah bin Harits az-Zubaidi mengatakan, كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْمَسْجِدِ الْ...